RSS

Minggu, 24 Juli 2011

KISAH NYATA


       "Abang! Ini adalah takdir Allah s.w.t.  Kita terima bang dengan penuh redha." Ujur si isteri kepada suami sambil meriba anak cacat yang baru dilahirkan itu. "Ahhh!! Begitu mudah  kau kata takdir. Ini adalah akibat dirimu yang sial, maka lahirlah anak yang cacat ini...!" jawab suami menafikan kata-kata isterinya.
       Si suami terus marah-marah menyalahkan isterinya. Kelahiran anak cacat yang tidak diingini itu kononnya berpunca dari si isteri, isteri yang membawa sial. Isteri bawa malu kepada suami dan seluruh keluarganya.
"Keturunan abang adalah molek-molek belaka. Tak ada yang cacat seperti anak kau ini." berleter si suami dengan bibir mencebik menghina isteri. Isteri terdiam kaku. Dia tidak mahu bersuara lagi. Dia hanya terus menangis dan terus menangis. Itulah bermulanya detik kepahitan hidup yang dirasai oleh seorang ibu muda. Mimpi indah selama ini telah padam dan diganti dengan kepahitan. Derita dan susah. Dirinya dihina dan dicemuh oleh suami sendiri.

Sabtu, 23 Juli 2011

HUKUM TERTAWA


Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin Uyainah berkata: "Nabi Isa a.s. berkata kepada sahabat hawariyyin (yang setia): "Hai garam bumi kamu jangan merosak sebab segala sesuatu jika dirosak dapat diubati dengan garam dan bila garamnya yang rosak tidak dapat diubati dengan apapun, hai para hawariyyin, kamu jangan memungut upah dari orang yang kamu ajar kecuali sebagaimana kamu memberi kepadaku dan ketahuilah bahawa kamu mempunyai dua ciri kebolehan iaitu tertawa tanpa sebab yang mentertawakan dan tiudr pagi tanpa bangun malam."

Hukum Mengqadha' Puasa Ramadhan


1. Qadha' (Penunaian, red) tidak wajib segera dilakukan
Ketahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita- bahwasanya mengqdha' puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera, kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'anha (yang artinya) : “Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha'nya kecuali di bulan Sya'ban" [Hadits Riwayat Bukhari 4/166, Muslim 1146, Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah hal.422. setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau (yakni Aisyah) tidak mampu dan tidak dapat mengqadha' pada bulan sebelum Sya'ban, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengahhirkan qadha' (sampai pada ucapan Syaikh) maka menjadi tersamar atasnya bahwa ketidakmampuan Aisyah adalah merupakan udzur (alasan) Maka perhatikanlah, -pent]

Menangislah yang ingin menangis… Pergilah yang ingin pergi


Oleh : Al Fadhli (Ketua Umum MPI Bandung)

Menangislah yang ingin menangis… Pergilah yang ingin pergi… Karena da’wah dan jihad akan tetap berputar hingga hari akhir… Hanya saja, apa engkau mau menjadi yang tergantikan..?

Jika para Nabi dan Rasul saja sudah lazim untuk ditinggalkan atau bahkan dikhianati para prajuritnya sendiri, maka apalah lagi kita yang manusia biasa… Sebagai pemimpin, kita bisa saja ditinggal lari para prajuritnya… Persis seperti Nabi Musa yang pada saat diperintahkan berjihad, kaumnya menjawab, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu.”
Siklus “pengkhianatan” ini memang lumrah… Karenanya, Allah kemudian menguatkan para Amiir ad da’wah wa al jihad dengan firman-Nya, “Fa’fu ‘anhum washfah…” Maafkanlah mereka dan biarkanlah… Dan the show must go on..! Karena amalan kita bukanlah untuk prajurit kita. Amalan kita juga bukan untuk dalam rangka meraih puncak eksistensi duniawi. Amalan kita hanyalah agar semata-mata Allah melihatnya lalu membalasnya dengan jutaan kebaikan di dunia dan di syurga…
Semoga coretan ini dapat menjadi penyegar para pejuang yang seringkali “dikhianati” prajuritnya… Amalan mereka telah Allah catat, dan amalan kita pun telah Allah catat… Jika dalam ber-diin saja Allah tidak memaksa, maka apalagi dalam da’wah, jihad, atau harakah… Yang penting jangan kita yang menjadi penyebab perpecahannya… Yang penting kita tetap berada di atas manhaj rabbani… Pijakan kita tetaplah al Quran dan as Sunnah… Dan tujuan kita pun tetap terpancang: TAWHIDULLAH…
Maka, pilihannya ada pada diri kita: MENGGANTIKAN atau TERGANTIKAN…
Wallahu a’lam…

Tangisan Seorang Mukmin


(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t berkata:
“Barangsiapa yang ilmunya membuat dia menangis, maka dia seorang yang alim.” Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepadanya, mereka menyungkurkan muka mereka sambil bersujud.” (Al-Isra: 107)
Dan Allah berfirman:

“Apabila dibacakan ayat-ayat Ar-Rahman (Dzat yang Maha Pemurah) kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan sujud dan menangis.” (Maryam: 58) (Mawa’izh lil Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 132-133)

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t berkata:
“Andai seseorang menangis pada sekumpulan manusia karena takut kepada Allah, niscaya mereka dirahmati semuanya.”
“Tidak ada satu amalanpun kecuali ada timbangannya yang jelas kecuali menangis karena takut kepada Allah. Allah tidak membatasi sedikitpun nilai dari setiap tetes air matanya.”
Dan beliau juga berkata: “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaan dia.” (Mawa’izh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 109)

Abdul Karim bin Rasyid t berkata:
Aku pernah berada di majelis Al-Hasan Al-Bashri, kemudian ada yang menangis dengan mengeraskan tangisannya. Maka Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya sekarang setan telah membuat orang ini menangis.” (Mawa’izh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 152)

Al-Imam Fudhail bin ‘Iyyadh t berkata:
“Menangis itu bukanlah dengan tangisan mata (saja). Akan tetapi dengan menangisnya hati. Sungguh, ada seseorang yang terkadang kedua matanya menangis sementara hatinya mengeras. Karena tangisan seorang munafiq adalah dengan kepalanya bukan dengan hatinya.” (Mawa’izh lil Imam Al-Fudhail bin ‘Iyyadh, hal. 54)

Sebab-sebab Penghapus Dosa


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan:

“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah k akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.

Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Dawud q bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair z, “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untuk meminta ampun kepada Allah l, kemudian Allah l mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi n telah bersabda:

الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

“Amal-amal (seorang hamba) tergantung amalan-amalan yang dikerjakan pada akhir kehidupannya.”

Sesungguhnya kesalahan/dosa seorang mukmin akan dihapuskan dengan sepuluh sebab, sebagai berikut:

1. Bertaubat kepada Allah l kemudian Allah l mengampuninya. Karena seseorang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

2. Meminta ampun kepada Allah l kemudian Allah l mengampuninya.

3. Mengerjakan amalan-amalan kebaikan, karena amalan-amalan kebaikan akan menghapuskan amalan-amalan kejelekan.

4. Mendapatkan doa dari saudara-saudaranya yang beriman. Mereka memberikan syafaat kepadanya ketika masih hidup dan sesudah meninggal.

5. Mendapatkan hadiah pahala dari amalan-amalan saudara-saudaranya yang beriman agar Allah l memberikan manfaat kepadanya dari hadiah tersebut.

6. Mendapatkan syafaat dari Nabi n.

7. Mendapatkan musibah-musibah di dunia ini yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

8. Mendapatkan ujian-ujian di alam barzakh yang akan menghapus dosa-dosanya.

9. Mendapatkan ujian-ujian di padang Mahsyar pada hari kiamat yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

10. Mendapatkan rahmat dari Arhamur Rahimin, Allah l.



Barangsiapa yang tidak memiliki salah satu sebab dari sebab-sebab yang bisa menghapuskan dosa-dosa ini, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana Allah l berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan-amalanmu. Aku menghitungnya untukmu kemudian Aku membalasinya untukmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”

(Diambil dari Risalah Tuhfatul ‘Iraqiyah fi A’malil Qalbiyyah hal. 32-33, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t)


Akhir Perjalanan Ahli Bid'ah


Dari Abu Qilabah t, beliau berkata: “Tidak ada seseorang yang mengadakan suatu kebid’ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin, atau memberontak kepada pemerintah).” (Al-I’tisham, 1/112, Ad-Darimi, 1/58 no. 99)

Ayyub t biasa menamakan ahli bid’ah itu sebagai Khawarij. Beliau mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang Khawarij itu hanya berbeda dalam hal nama dan julukan, namun mereka bersepakat dalam menghalalkan darah kaum muslimin.” (Al-I’tisham, 1/113)

Ada seseorang berkata kepada Ibnu ‘Abbas c: “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsu kami berjalan di atas hawa nafsu kalian (yakni para shahabat).” Ibnu ‘Abbas c segera menimpali, “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu itu. Ia dinamakan hawa karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.” (Asy-Syarhu wal Ibanah hal. 123 no. 62)

(Diambil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi)


Al Qur'an

Al-Qur'an Widget by Blogger Tutorial Blog

I Love Allah

I Love Allah